Duolingo: Diskriminasi vs Respek Kredibel Berbahasa?

Pernahkah kamu menemukan cara belajar bahasa yang bagus? Pernahkah kamu menemukan alternatif melalui sebuah aplikasi dalam ponsel genggamanmu? Mungkin, Duolingo adalah jawaban semua umat.

Duolingo.com

Saya menemukan ini karena saya sedang mempelajari bahasa Prancis dan mencoba untuk mempertahankan skill berbahasa Jepang yang saya miliki. Namun, aplikasi ini menjadi diskriminasi bagi rakyat jelata berbangsa Indonesia.  

Duolingo menawarkan 36 bahasa asing yang siap diringkus dengan mengaksesnya secara daring. Kamu pun bisa membayarnya minimum Rp13.000 berdasarkan Google Play agar bebas iklan dan belajar luring. Tetapi, Duolingo berhasil mendiskriminasi bahasa terutama untuk pembelajar Indonesia terutama yang minim keahlian berbahasa Inggris. Namun, jika kamu merupakan orang yang serba penasaran atau KEPOers maka aplikasi ini bisa jadi salah satu rekomendasi bagus, bagus loh ya bukan terbaik, untuk kamu yang ingin belajar bahasa asing dan mengetahui bahasa yang dipelajari di tiap-tiap negara asing.

Selain itu, Duolingo hanya berhasil jika kamu menyatukan hasil pembelajaran kamu secara buku teks dan mencoba berlatih dengan Duolingo. Walaupun saya sendiri belum mengeksplorasinya secara jauh, saya menemukan kejanggalan diskriminasi yang lain terhadap bahasa Eropa dan bahasa yang memang belum sejajar dalam bahasa PBB. Alasannya, karena Duolingo hanya menawarkan latihan berbahasa dalam bentuk cerpen di bahasa tertentu. Frasa/pepatah yang saya buat “Berbahasa tidak akan membaik tanpa membaca pada bahasa padanannya”. Tambahan lainnya, Indonesia belum populer di khalayak antek-antek asing kecuali para turis mereka mengenal kota Indonesia bukan hanya Bali.

Photo by: Bookish Indonesia

Alhasil, rakyat Indonesia pun tidak akan menghargai untuk berbahasa asing dan sebaliknya. Duolingo hanya dikhususkan buat mereka yang berada di kelas menengah-atas dan hidup metropop. Hidup metropop pun belum menentukan keinginannya akan belajar berbahasa asing karena sifat malasnya untuk menjadi orang yang memang suka mempelajari suatu hal. Tentu ini disebabkan belum bisa menghargai keputusan orang lain atau membaca waktu masa datang untuk dirinya sendiri — bahasa halusnya minim literasi dan tidak matang dalam perencanaan – kata halus lainnya terdesak dan kepepet.

Oleh karena itu, Duolingo masih dipertanyakan kredibilitasnya dalam menjangkau baik linguis atau murid yang di bawah rata-rata secara edukasi baik teknologi atau finansial akibat kapitalis yang meninggi sepersekian detik terutama bahasa lokalisasi/bahasa daerah. Atau… mungkin salah satu dari kalian jadi pelestari-pelestari bahasa yang ada di Indonesia tanpa memihak bahasa apapun?

Written by: Rifqi Akbar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s