Pandemi: Media vs Buku?

Hai! Jumpa lagi dengan salah satu penikmat literasi walaupun hanya dalam tulisan. Salam rindu untuk kalian semua *ehe* Semoga kalian tetap ceria dan sehat selalu 🙂

Berbicara soal penjara yang mengurung kita nyaris 1 tahun penuh tentu bertanya-tanya tentang aktivitas seru apa yang membuat betah walaupun hanya di dalam rumah.

Photo by RF._.studio on Pexels.com

Mungkin, ada yang menghabiskannya untuk memulai hobi baru yang jarang disentuh, mencoba untuk berkomunikasi dengan keluarga, ataupun ada yang mencoba untuk mengenal diri sendiri lebih dekat hingga menyimpan energi-energi positif agar tidak terkuras oleh hal-hal berbau negatif.

Tunggu-tunggu, kejadian di atas adalah salah satu bentuk overpositivethinkingtoxicity. Alhasil, realitanya adalah kita tetap memegang teguh ponsel yang sering berada di genggaman kita atau menonton Netflix di sela-sela waktu kosong *uh, pasti kalian sama seperti aku, ya kan?*

Photo by Cristian Dina on Pexels.com

Kecanduan adiktif akan teknologi terutama buat yang sering kehilangan kontrol diri membuat kita menjadi lupa diri bahwa perangkat keras yang ada di dalam kepala kita juga butuh dorongan dan asupan akan kata, kalimat, bahkan cerita agar ada kesinambungan dan keselarasan antara hati dan tentunya logika.

Membuat logika itu mudah, kamu tinggal cari dan pilih salah satu artikel, lalu telusuri kolom komentar, telan deh mentah-mentah, apalagi makin ke sini makin banyak buzzer berupa-rupa topengnya.

Bagaimana dengan hati? Melatih hati itu repotnya bukan main. Penulis ini tahu apalah tentang hati yang tak ada habisnya. Cakapnya, salah satu kunci melatih hati di saat pandemi adalah Membaca.

Photo by nappy on Pexels.com

Eitsss, sebelum tengok alasannya, target TBR kalian sudah tamat belum untuk tahun ini? atau makin menggunung? Penulis ini pun meminimalisir TBR dengan detoksifikasi media sosial FUFUFU *tertawa jahat* Baibai Marketplace n’ Welcome poking social email notification.

Akhirnya, penulis ini menemukan salah satu solusi nyaris ampuh dalam membasmi hukum kekekalan TBR yang dicanangkan sahabat Bandungnya yang unboxing paket buku selama 6 jam, gileeee lu ndro!

Meskipun, tetap saja ada sobat buku di WA serta Goodreads berseliweran yang menaruh link ulasannya atau diskon dari kontak publishing langsung hihi terdaebaklah kalian.

Dan masih banyak manfaat lain hasil dari mengurangi pemakaian media sosial. Eksperimen dan Rasakan sendiri. Tentu ada rasa ingin balik untuk membicarakan dan meracuni kalian dengan buku-buku yang ku lahap apalagi penelitianku tentang akar-muakarnya membaca bikin bulu kuduk awak nih jadi menggigil. Tapi belum sekarang, yes!

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Ternyata, Membaca masih menjadi salah satu kegiatan terbaik hingga pandemi berakhir. Dengan membaca, kita tetap melatih kepekaan akan perasaan dan problematika dengan memosisikan diri sebagai setiap tokoh yang ada di dalam buku bacaan kita dimulai kegemesan nakalnya anak-anak hingga keragaman rasial, budaya, dan agama.

Menurut Lewis Goldberg, salah satu ahli psikologi, mengemukakan tentang OCEAN dalam untungnya membaca. silakan cari dan pahami sendiri di era 5G, sudah jadi netizen yang budiman kan? Intinya, kegiatan membaca membuat kita terjun ke dunia lain tanpa harus permisi dan segan. Dengan begitu, kita selalu mencoba eksplorasi hal-hal yang mungkin kita belum kenal sama sekali. Salah satunya, hayooo, siapa yang berkenalan dengan Butterfly Hug jika kalian mungkin bukan dari jurusan Psikologi tetapi dari hasil menonton It’s Okay to Not Be Okay.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kesimpulannya, buat kalian yang baru saja mulai membaca di masa pandemi. Cobalah satu atau dua buku yang sesuai dengan bidang kalian atau kalian lagi ingin tahu tentang dunia apa? Idola kalian? Cara mengenal kehidupan perempuan yang kalian kagumi? atau terlelap dalam kode-kode hieroglif zaman-zaman baheula? Semua itu tertuang dalam buku. Sebagai pengingat, salah satu sampel hasil output membaca adalah berani menulis.

Kira-kira hal lain apa yang kalian alami sendiri hasil manfaat membaca terutama di masa pandemi? Tulis di kolom komentar ya.

“Konten blog ini Camilan. Makanan utamanya Buku.” – Ivan Lanin (Recehan Bahasa).

Jangan sampai, media membunuh kreativitasmu apalagi berkarya hingga enggan membaca buku.

Written by: Rifqi Akbar

Food For Thought:

  • Reading Fiction and Empathy by Raymond A. Mar, Keith O, and Jordan B. Patterson.

One thought on “Pandemi: Media vs Buku?

  1. Apa lagi waktu pandemi seperti ini malah waktu baca sebenarnya sangat banyak dan masih bisa melakukan aktivitas lainnya tapi aku juga masih cukup struggling dengan mengurangi penggunaan gawai yaitu hp dengan lari membaca buku untuk menjaga kewarasaan emosi yang di masa pandemi ini cukup membuat emosi tidak stabil

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s