Awan Kelabu dan Kepedihan dalam Novel Hei, Alga

Judul: Hei, Alga!

Pengarang: Cikie Wahab

Penerbit: Shira Media

Tahun terbit: 2020

Tebal buku: 108 halaman

Apa masalah terbesar yang mungkin untuk dihadapi seorang anak 12 tahun? Ulangan matematika yang sulit? Orang tua yang marah ketika kita bermain sepanjang hari? Atau guru yang menghukum saat kita lupa mengerjakan tugas? Bagaimana jika kita yang masih anak-anak harus memikul masalah berat yang datang bertubi-tubi dalam hidup kita?

Alga adalah anak laki-laki biasa. Yang membuatnya berbeda dari anak di sekitarnya adalah ia tidak tinggal dengan orang tuanya yang telah lama berpisah. Alga hanya tahu bahwa sejak ia kecil, ibunya menjadi tenaga kerja di luar negeri, sementara ayahnya yang bekerja di luar kota hanya bisa menjenguk Alga sebulan sekali. Hal itu membuat Alga harus tinggal bersama bibi dan sepupunya. Meski Alga masih tinggal dengan sanak saudaranya sendiri, ia tetap merasa tidak nyaman karena sepupunya kerap mengganggunya, sementara sang bibi kerap mengambil uang Alga demi kepentingan anaknya. Hal ini membuat Alga lebih nyaman ketika sedang bekerja menjaga kambing di rumah Pak Zul, tetangganya. Alga hanya memiliki seorang sahabat perempuan bernama Maria. Di sisi lain, Alga masih terus mengharap ibunya yang nun jauh di sana membalas suratnya setelah sekian lama tak ada kabar. Akankah Alga mendapatkan balasan surat dari ibunya? Dan ketika satu-satunya sahabat yang ia miliki membuatnya dimusuhi orang satu sekolah, apa yang Alga lakukan?

Hei, Alga adalah sebuah sastra anak karya Cikie Wahab. Buku ini menjadi pemenang harapan dalam Sayembara Cerita Anak Dewan Kesenian Jakarta 2019. Sebagai penyuka cerita anak, tentu aku penasaran dengan buku ini. Dan pilihanku rupanya tidak salah. Cerita Hei, Alga sebenarmya sederhana, namun cukup meninggalkan rasa pedih. Meski memang ada kesan terburu-buru dalam penceritaannya, namun aku merasa terbawa dengan kisah Alga yang sarat kesengsaraan. Seakan seluruh hidup Alga digelayuti oleh awan kelabu.

Seperti sastra anak kebanyakan, tokoh Alga dalam novel ini harus menghadapi masalah dari lingkungan sekitarnya. Dari masalah-masalah itulah tokoh Alga tampak mengalami pendewasaan karakter. Ia banyak belajar mengenai keikhlasan, pentingnya memaafkan, dan bahwa bagaimana pun juga, ikatan keluarga tetap harus dijaga. Alga juga belajar untuk merelakan, bahwa dalam hidup tidak setiap hal yang dia inginkan akan menjadi kenyataan. Tentu hal-hal itu menjadi pembelajaran hidup yang tidak mudah bagi anak 12 tahun. Jika kamu senang membaca cerita anak yang memuat banyak nilai kehidupan, buku ini patut untuk dilirik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s