Bisakah Menjadi Ibu yang Lebih Bebas Seperti Ibu di Bringing Up Bébé?

Anak-anak adalah entitas yang terpisah dan mumpuni, yang memiliki selera, kesenangan dan pengalaman mereka sendiri mengenai dunia.

Pamela Druckerman
Photo by Kristina Paukshtite on Pexels.com

Suatu waktu saya pernah berpikir apakah saya akan menjadi seperti ibu-ibu lainnya yang bergadang lebih dari 3 bulan setelah melahirkan bayi, yang hanya sempat pakai kerudung bergo saat keluar rumah, yang selalu mengajak bicara bayi yang sibuk sendiri, yang berlari-lari mengejar batita saat pesta pernikahan, yang menyuapi anak sambil berkeliling rumah?

Sampul Bringing Up Bebe terbitan Penguin Books – via Amazon.com

Seiring berjalannya waktu, setelah menikah saya mulai khawatir akan perubahan dari hanya mengurus diri sendiri menjadi harus mengurus bayi. Ya, memang pada awalnya bayi tidak akan saya dan suami urus seorang diri, karena ada keluarga. Tetapi, saya pikir kami (saya dan suami) harus tahu konsep tentang membesarkan si bayi manusia ini. Perkara mengurus manusia memang bukan urusan gampang.

Beruntungnya, sebelum kekhawatiran semakin meningkat, saya menemukan tweet dari Ibu Sheika, seorang perempuan yang melahirkan dan membesarkan anak bersama suaminya di Perancis. Dari tweet tersebut saya menemukan buku pengasuhan minim stres ala Perancis yang berjudul Bringing Up Bébé. Perkembangan anaknya yang diasuh ala Perancis sangat mengagumkan. Usia 2 tahun anaknya sudah bisa makan dengan tertib di kursinya sendiri. Usia 3 tahun anaknya sudah lepas popok. Usia 3 tahun juga anaknya sudah punya percaya diri untuk menyapa dan salam pada orang lain. 

Ibu Perancis yang Tegaan

Penekanan paling penting dari pengasuhan anak minim stres adalah bagaimana caranya ibu tidak terlalu bergantung pada anak dan anak pun tidak terlalu bergantung pada ibu. Contohnya, ibu Perancis membiarkan anaknya yang berusia 5 tahun untuk ikut berkemah selama 8 hari bersama teman-teman dan guru-guru sekolahnya. Bagi kita orang Indonesia, aktivitas ini cukup ekstrem. Contoh lain, ibu Perancis biasa menitipkan bayi mulai usia 3 bulan di daycare. 

Photo by Naomi Shi on Pexels.com

Jika diperhatikan, ibu-ibu di sekitar kita biasanya memilih mencari pekerjaan yang bisa dilakukan sambil mengurus anak di rumah. Tidak sedikit dari mereka yang memilih melepaskan pekerjaan untuk mengasuh anak karena tidak tega membiarkan anak diasuh oleh orang lain, apalagi orang asing seperti di daycare. Tidak hanya itu, si ibu juga tidak terbiasa bebas dari memikirkan anak saat mereka me time. Anak selalu dalam pikiran dan pengawasan ibu baik sedang bersama dan tidak sedang bersama anak. Di kondisi yang serupa, tentu saja ibu Perancis sangat bisa dan terbiasa menikmati ngobrol dengan temannya tanpa harus terus-menerus mengawasi anak bermain-main di kotak pasir. Ibu Perancis bisa menikmati secangkir kopi di cafe seolah mereka tidak sedang meninggalkan balita di rumah.

Jika membandingkan ibu-ibu di Indonesia dan ibu-ibu di Perancis, tentu tidak bisa lepas dari kultur yang sudah terinternalisasi di keluarga Indonesia. Sebagai contoh, di Indonesia sumber pencari nafkah utama adalah kepala keluarga/suami/bapak. Tentu jika prinsip tersebut disepakati dalam sebuah keluarga, ibu lah yang menjadi pengasuh utama anak-anak. 

Terlepas dari adanya pembagian kerja domestik yang seimbang antara suami dan istri, suami atau pun istri pasti memiliki konsep akan dijadikan seperti apa anak mereka ini. Sebab ibu menjadi pengasuh utama, dia lah yang paling bimbang dalam membagi perhatian pada karier dan anaknya. Tak elak, dalam bersikap pada anak pun ibu sering kali merasa, “aku menyesal marah tadi.” Karier atau anak, marah atau menyesal, boleh atau jangan, selalu datang berbaur dan membingungkan bagi mereka.

Bersikap tega pada anak membuat ibu lebih bebas memenuhi kebutuhannya seperti pekerjaan, hobi, hubungan sosial, seks. Menenggelamkan diri hanya pada urusan dunia keibuan dan pengasuhan akan membuat anak tidak mandiri, tidak berkesadaran, tidak memahami dunia dan tidak nyaman melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Saat memberikan peraturan pun, ibu Perancis tegaan; tidak merasa bersalah setelah marah pada anak, membiarkan bayi terbangun pada malam hari, menitipkan bayi di daycare, mengambil keputusan sendiri tentang aturan. Menariknya, pengasuhan Perancis ini tidak membuat anak membangkang di belakang orangtuanya, melainkan anak menjadi lebih patuh, ekspresif, berpikir kritis, dan berani eksplorasi. 

Cara mana yang bisa diikuti?

Tidak semua ibu di Indonesia mampu membayar pengasuh agar me time terpenuhi. Berkaca pada sikap ibu-ibu Perancis dan terlepas dari perbedaan budaya, beberapa cara pengasuhan bisa diterapkan ibu Indonesia jika ingin lebih bebas. Anak bisa bersikap otonom, ibu pun bisa damai saat memenuhi kebutuhannya sendiri.

Poin pertama dalam pengasuhan adalah bersikap tegaan tidak ambivalen baik pada anak maupun pada diri sendiri. Penulis buku Bringing Up Bébé, Pamela Druckerman, sempat mengalami kesulitan karena mengikuti pengasuhan ibu-ibu Perancis ini. Ia masih dihantui cara pengasuhan Amerika di tempat ia dibesarkan. Sama seperti ibu Amerika yang tidak tegaan, ibu-ibu di Indonesia pun demikian. Hasil dari sikap tegaan ibu perancis ini, kurang dari usia 3 bulan bahkan usia 1 minggu bayi mereka bisa tidur sepanjang malam. Tentu orangtua akan lebih ceria di pagi hari jika mereka tidak bergadang, kan?

Photo by Emma Bauso on Pexels.com

Selain bisa tidur sepanjang malam, dalam buku tersebut Pamela menjelaskan bahwa bayi Perancis dididik bisa ‘menunggu’. Ini adalah poin kedua. Tentu mereka tidak pernah tantrum di tempat umum. Orangtua manapun pasti senang jika anaknya tidak guling-guling dan berteriak di minimarket saat berbelanja bulanan. Ibu Perancis mendidik anaknya agar bisa menguasai diri sendiri/bertindak otonom dengan cara ‘menunggu’ tersebut. Artinya, anak menerima bahwa tidak semua yang ia inginkan harus segera dikabulkan. Saat anak menerima harus menunggu, maka ia dapat menguasai dirinya sendiri.

Sederhananya, untuk memberanikan diri dalam memulai cara pengasuhan Perancis berdasarkan buku Bringing Up Bébé ini adalah harus ada kepercayaan bahwa tidak ada ibu yang sempurna. Itu sebabnya, berbeda dengan ibu Indonesia yang biasa kita temui, yang menitipkan anak saat bekerja sembari mengeluh telah menjadi ibu yang payah, ibu Perancis tidak pernah mengeluh saat tidak hadir untuk anaknya terlebih saat memenuhi kebutuhan me time-nya. Bagi mereka, anak dapat mandiri sejak dini tanpa kehadiran ibunya setiap saat.

One thought on “Bisakah Menjadi Ibu yang Lebih Bebas Seperti Ibu di Bringing Up Bébé?

  1. Tulisan yang menarik.
    Kehendak menjadi ibu yang otonom di Indonesia,kadang terbentur oleh ketergantungannya kepada peran keluarga besar. Untuk itu, kehendak ini harus diimbangi dengan edukasi kepada keluarga besar tentang pola pendidikan anak yang diinginkan si ibu yang mungkin agak berbeda dari keluarga besar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s