Buku-buku yang Menemaniku Dalam Perjalanan Penyembuhan Depresi

Reasons to stay alive, buku ini adalah buku pertama yang membuatku merasa divalidasi dengan keadaanku dan menggerakkanku untuk memeriksakan diri ke psikiater, tidak langsung sih, butuh proses berfikir yangn cukup lama setelah baca buku ini. Saat membaca buku ini, aku belum didiagnosa depresi mayor, aku bingung apakah aku depresi sungguhan atau aku sinting, karena aku sudah bertahun-tahun memiliki angan-angan untuk bunuh diri, saat itu aku merasa kondisiku adalah kondisi wajarku, bukan penyakit yang dapat disembuhkan.

Kembali tentang buku ini, di akhir bukunya, ada kompilasi tweet berisi alasan-alasan hidup yang diungkapkan netizen melalui tagar #reasonstostayalive. Malamnya, aku mencoba menulis alasan-alasan yang bisa aku pegang untuk tidak menyerah. Satu alasan utama yang selalu kupegang setiap kali dorongan untuk bunuh diri datang adalah aku tidak ingin anak-anakku punya latar belakang kisah hidup ‘ibuku mati bunuh diri’ seperti Phoebe Buffay di serial Friends atau James di serial The End of The F*cking World, rasanya sangat tidak adil sekali. 🙁

Phoebe Buffay dari serial Friends

James dan Alyssa dari serial The End of the F***ing World

Selanjutnya ada buku Loving the wounded soul, ditulis oleh penyintas depresi sekaligus pakar di bidang psikologi dan co-founder pijarpsikologi.org. Buku ini membahas tentang depresi secara menyeluruh disertai pengalaman penulis. Bab favoritku adalah bab terakhir berjudul Higher Meaning, berisikan kontemplasi penulis akan pesan dan tujuan hadirnya depresi dalam diri kita.

Ekspektasiku membaca buku tentang depresi itu ya depressing dan pesimis, lucunya membaca buku ini membuatku bersyukur depresi pernah mampir di hidupku, buku ini menyadarkanku bahwa depresi mengajarkanku empati dan menghargai diri. Oh ya, dulu kalau aku sedang ‘kambuh’ aku malah jadi kreatif menulis puisi gloomy-gloomy gitu.

Kemudian, aku juga membaca buku berjudul Lost connections, waktu depresiku lagi parah-parahnya, pada awalnya buku ini tidak membantu dan malah membuatku merasa bersalah karena saat itu aku masih bergantung pada anti-depressant, tapi aku mengapresiasi investigasi penulis terkait anti-depressant.

Johann Hari, penulis buku Lost Connections ini, dia juga penyintas depresi. Dia mengunjungi beberapa tempat dan menuliskan kisah-kisah orang dengan pengalaman depresi mereka dan bagaimana mereka berhasil mengatasinya.

Sejujurnya buku ini tidak membantu banyak untukku saat sedang parah, karena di bab awal-awal, setelah membahas obat, Johann Hari membahas tentang hubungan dengan manusia dan alam. Aku tidak merasa terbantu karena aku merasa suka berteman, aku memiliki lingkaran aman berisi teman-teman suportif yang memahamiku, yang aku tidak malu menceritakan kondisiku ke mereka. Aku juga tidak merasa kurang piknik, kemudian aku menyelingkuhi dan mencampakkan buku ini karena lebih tertarik buku yang baru aku beli.

Ketika situasi depresiku sudah membaik, aku melanjutkan baca buku ini dan aku jadi suka, penulis membahas tentang makna kehidupan yang berarti untuk kita, pekerjaan yang membuat kita bahagia, mengatasi trauma, dan hal-hal optimis lainnya. Dia juga menyoroti bahwa ketidakbahagiaan kecil terus menerus bisa memicu depresi.

Dalam kasus depresiku, aku membutuhkan obat sebelum menerima terapi. Sebelum mengkonsumsi obat, aku menjalani terapi, seminar, buku atau apapun yang aku kira bisa membantu meringankan depresiku ternyata terpental semua, aku terlalu depresi untuk bisa mendengarkan hal positif. Obat membantuku rileks dan aku jadi bisa lebih tenang untuk mengedukasi dan menyembuhkan diri.

Depresi membuat perasaanku sangat sensitif, dan aku menjadi sangat menikmati buku-buku puisi yang membicarakan perasaan, membaca puisi mellow mengobati rasa kesepian tidak jelas yang sering aku rasakan saat itu. Berikut beberapa buku favoritku ketika diserang galau. Oh ya, kalau sedang ‘low‘ membaca buku puisi yang depressing kadang bisa jadi trigger, jangan diforsir ya, baca untuk menyamankan aja. Kadang depresi bisa memanipulasi kita untuk merasa nyaman dengan kesedihan.

Berikut beberapa buku puisi favoritku untuk menemaniku saat low mood.