Memburu Muhammad, Sebuah Kumpulan Kisah Sufistik dengan Konteks Modern

Ketika tradisi beragama tidak bisa menyelesaikan dilema moral dan sosial, kamu mau bersandar ke mana? Kurang lebih, pesan besar ini yang kurasakan ingin disampaikan oleh penulis Memburu Muhammad, Feby Indirani, ketika membaca cerita demi cerita yang tersusun di buku ini.

Tumbuh besar di lingkungan agamis membuatku familiar dengan kisah hikmah nan sufistik, dan ini yang membuatku merasa terpikat dengan tulisan buku ini. Bagaimana tidak? Sebagian kisah-kisah di buku ini, merupakan retelling dari kisah hikmah dengan konteks modern disertai twist konflik yang lebih dekat dengan keseharian kita. Penulis mengemas dengan ciamik bagaimana Abu Jahal mencari Muhammad di negeri kita, negeri sejuta Muhammad. Muhammad ada di mana-mana. Coba saja, ada berapa kenalanmu yang punya nama depan Muhammad? Abu Jahal dibuat bingung karena tidak ada satupun Muhammad di Indonesia yang bersifat semulia Muhammad yang dia buru.

Perpaduan simbolisme dan realis juga memberi thrill dan misteri tersendiri. Di cerita pertama di bukunya, pembaca dibuat bingung dengan realita dan umpama. Aku harus membaca dua kali untuk memastikan apakah konflik di sini simbolisme belaka atau memang misteri yang dibuat nyata?

Cerita-cerita di buku ini pendek-pendek sekali, kisaran 2-5 lembar. Tetapi kritik, atau pesan, atau sindiran, di dalam kisah-kisahnya terasa menonjok sekali. Aku butuh menjeda progres membacaku untuk mencerna dan mengira-ngira apa yang sebenarnya ingin penulis sampaikan. Aku tidak bisa mengendalikan imajinasiku untuk tidak membuat skenario-skenario spekulatif lainnya.

Cerita favoritku adalah salah satu cerita yang memiliki laut sebagai karakternya. Setelah dibuka dengan paragraf puitis yang kuat dan menimbulkan misteri, muncullah masalah dalam cerita yang temanya agak mirip dengan yang pernah kubaca di salah satu roman karya HAMKA. Setelah misteri terungkap, kisah ditutup lagi dengan paragraf puitis yang sama. Rasanya cerita ini yang paling membuat hatiku sakit setelah membacanya.

Ada juga beberapa cerita yang berlatarkan negara fiktif yang konservatif bernama Tuantu. Dalam beberapa aspek, aku jadi teringat lingkunganku sendiri. Di lain aspek, aku teringat negara lain di Timur Tengah sana. Menikmati kisah dengan latar Tuantu mengingatkanku akan gregetnya membaca kisah berlatar Gilead di novel-novel Margaret Atwood.

Aku rasa, di negara yang mayoritas beragama dan agamis, sastra dengan tema seperti yang diangkat Feby Indirani ini masih jarang. Tema tentang skeptisisme akan akhirat, personifikasi malaikat dan Iblis, pertimbangan moral dan etika yang berkaitan dengan dosa dan pahala, dan sejenisnya, sepatutnya menjadi bagian dari tradisi beragama. Buku kedua dari trilogi Islamisme Magis ini ditulis dengan indah, berani, sekaligus jenaka.

Untuk mengakhiri tulisan ini, aku ingin mengutip kata Feby Indirani dalam obrolan diskusi buku IG LIVE Bookish Indonesia. “Percayalah bahwa apa yang kamu fikirkan dan kamu percaya itu penting. Dan jika karenanya kamu merasa sendirian, kamu tidak sendirian. Kamu akan menemukan teman yang cocok denganmu. Dan buku yang tepat akan datang kepadamu.” Aku rasa buku ini datang kepadaku di saat yang tepat karena aku menemukan pengalaman membaca yang berharga di tiap kisah-kisah pendek di dalamnya.

https://www.instagram.com/tv/CK8mNAHANnA/?utm_source=ig_web_copy_link