Bookish Indonesia
Media Literatur & Perbukuan

Mendefinisikan Sastra Secara Moderat*

Ada anggapan awam bahwa yang disebut sastra itu berbeda dari tulisan fiksi pada umumnya di mana “yang sastra” lebih tinggi kastanya dibandingkan fiksi lainnya. Ada juga anggapan bahwa sastra adalah sebuah genre fiksi. Sebagian lainnya mendefinisikan sastra terlalu longgar sehingga tulisan apapun, baik itu fiksi maupun non fiksi, bisa dianggap sebagai sastra. Lantas, bagaimana kita menyikapi spektrum definisi ini secara bijak agar bisa menempatkan sastra pada tempat yang adil?

Tentu saja tulisan ini bukan satu-satunya wacana yang mempertanyakan hal tersebut. Tulisan ini hanya salah satu dari sekian banyak wacana yang memperdebatkan hal ini. Dan seperti kata bang Heru Jhoni Putra pada kelas Obrolan Sobat Gabut yang diadakan oleh Kedai Teroka beberapa waktu lalu, “jika kita berharap untuk mendapatkan jawaban yang pasti untuk pertanyaan tersebut sama saja berharap sastra itu sendiri untuk selesai.” Pada hakekatnya memang tidak ada yang bisa memiliki otoritas penuh untuk mendefinisikan apa itu sastra dan apa yang termasuk dan tidak termasuk sastra, karena sastra itu sendiri adalah seni dan seni tidak sepatutnya dikunci pada satu definisi saja.

Photo by Oladimeji Ajegbile on Pexels.com

Definisi sastra akan berubah-ubah seiring berjalannya waktu, salah satunya karena karya-karya yang bermunculan. Penulis juga berperan pasif dalam mengkonstruksi definisi sastra melalui tulisan-tulisan yang diproduksinya. Maka, setiap saat, kita akan terus “menemukan cara baru untuk bersastra”, istilah yang dipakai oleh bang Heru.

Mempersempit Area Definisi

Sastra adalah produk bahasa, sama seperti berita, esai akademis, iklan baris, dan curhatan di media sosial. Namun, tidak seperti beberapa temannya tersebut, sastra memiliki satu hal yang hanya dimilikinya sendiri, yaitu piranti sastra. Dengan adanya piranti sastra ini, teks sastra otomatis menjadi sebuah strategi berbahasa. Piranti sastra adalah seperangkat alat bahasa yang menjadi pembeda karya sastra dari teks lainnya. Piranti sastra mencakup majas, pencitraan (imagery), simbol, sudut pandang, antropomorfisme, analogi, dan masih banyak lagi. (Kamu bisa baca daftar panjangnya di sini)

Dengan begitu, secara sederhana kita sudah bisa mendefinisikan sastra sebagai produk teks yang menggunakan piranti sastra tertentu sehingga memuat agendanya tersendiri. Dengan definisi tersebut, sastra bisa dibedakan dari iklan, teks jurnalistik, esai akademis, dan buku sains populer. Namun, tidak tertutup pintu terjadinya keterkelindanan di mana teks jurnalistik menggunakan beberapa piranti sastra untuk memperkaya tulisannya, meskipun tidak seoptimal ketika sastra yang menggunakannya.

Konsekuensi

Menurut bang Heru, penggunaan piranti sastra pada sebuah teks membawa konsekuensinya tersendiri yang tidak bisa dihindari. Setidaknya ada tiga konsekuensi yang dapat diantisipasi:

1. Bersifat polifonik/banyak suara

Ini adalah efek dari penggunaan piranti sastra secara optimal. Sastra bisa menyorot dan mengangkat sebuah fenomena menjadi bentuk yang berbeda-beda. Bang Heru memberi contoh: fenomena kebakaran bisa disorot dari sudut pandang korban, bisa juga dari sudut pandang rumah yang terbakar atau dari sudut pandang api yang membakarnya. Hal itu tidak mungkin dapat dilakukan dalam teks jurnalistik.

2. Bersifat multitafsir

Dengan menggunakan piranti sastra secara optimal, sebuah teks sastra memuat makna yang beragam, tergantung pembacaan si pembaca. Dalam banyak kasus, seorang penulis memang secara sengaja memuat satu pemaknaan tertentu yang ingin ia sampaikan melalui teksnya, namun ia tidak bisa mengontrol pembaca untuk memperoleh pemaknaan yang ia inginkan. Bahkan, seorang penulis tidak bisa mengontrol ke mana saja arah pemaknaan yang dilakukan oleh pembaca terhadap teks yang ia produksi.

ilustrasi gambar multitafsir

Adalah sebuah kekeliruan konsep jika seorang sastrawan menuntut pembacanya untuk hanya memaknai teks sastra pada satu pemaknaan tunggal seperti yang pernah saya kritisi pada tulisan sebelumnya yang berjudul Sastra: Antara Pembacaan dan Keterbacaan. Seorang penulis yang bijak adalah yang memahami bahwa dengan ia menggunakan piranti sastra secara maksimal, maka akan muncul berbagai tafsiran dari pembaca. Atau bahkan secara sadar ia sengaja menciptakan ambiguitas pada teks yang ia ciptakan. Sebaliknya, jika pembaca tidak bisa memaknai sebuah teks sastra menjadi berbagai pemaknaan, itu adalah bentuk kegagalan penulis dalam memaksimalkan penggunaan piranti sastra.

3. Berperkara dengan “kebenaran”

Karena sifatnya yang multitafsir/ambigu dan polifonik tersebut, karya sastra sangat anti dari label kebenaran. Bahkan, teks sastra itu sendiri cenderung menggoyang dan mempertanyakan apa yang dianggap sebagai “kebenaran”.  Hal ini sering kita temui pada karya sastra yang mengangkat tema moralitas abu-abu (gray morality) di mana pembaca dibenturkan dengan nilai moral yang dianut dan dianggap benar selama ini. Sebuah teks sastra yang baik adalah yang tidak terburu-buru terhadap “kebenaran”. Ini juga banyak kita temui pada “sastra kiri” di Indonesia, yang sengaja menggoyang apa yang dianggap “benar” di tengah masyarakat Indonesia tentang spektrum “kiri”.

Ketiga konsekuensi tersebut sekaligus menjadi ciri-ciri karya sastra dan juga penyebab mengapa kritik sastra menjadi penting. Kritik sastra mengambil peran untuk melakukan pembacaan secara lebih serius dengan menganalisis makna yang dibawa pada sebuah karya sastra. Seperti kata bang Heru, “adanya kritik sastra menunjukkan bahwa penulis tidak memiliki kuasa penuh untuk membentuk arti pada karya-karyanya.”

Kesimpulan

Kita dapat secara moderat mendefinisikan sastra sebagai produk teks yang menggunakan piranti sastra tertentu sehingga memuat agendanya tersendiri. Dengan definisi ini, cakupan sastra tidak terlalu luas sehingga teks apapun dari mulai iklan baris kos-kosan hingga naskah drama termasuk ke dalamnya. Namun juga tidak terlalu sempit sehingga hanya terbatas pada fiksi-fiksi klasik dan kanon saja sehingga menciptakan kesan elitis pada label “sastra”.

Tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan betapa luwesnya makna sastra, namun pada saat yang bersamaan tetap memiliki pakem-pakem tersendiri yang menjadi batasan. Setidaknya, untuk saat ini, definisi inilah yang lazim dianut oleh pelaku sastra, budayawan, akademisi sastra. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk terciptanya definisi baru di kemudian hari, karena diskursus pemaknaan sastra adalah diskursus yang dinamis. Dan salah satu faktor dinamisnya pemaknaan sastra adalah karena keluwesan sastra itu sendiri sehingga karya-karya sastra yang muncul akan otomatis membawa definisinya tersendiri tentang sastra.


*Tulisan ini adalah hasil daur ulang dari tulisan asli berjudul Apa itu Sastra yang terbit di akun Medium Haris Quds

Ditulis oleh: 6

Your gondrong book reviewer <3

Leave a Reply

Your email address will not be published.