Photo by RF._.studio on Pexels.com

Serial TV The Good Place, Filsafat Moral Kant, dan Improvisasi Sistem Akhirat Fiktif

Aku yakin semua orang pernah mengalami dilema moral, dan mungkin pada fase hidup tertentu, dilema moralnya mungkin menjadi lebih sering atau lebih dilematis secara intensitas. Dalam menjalani hidup, biasanya kita punya kompas moral, dimana secara alamiah kita bisa membedakan mana hal baik atau buruk yang akan bermuara dalam pengambilan keputusan. Tapi apakah yang terasa alamiah itu memang muncul sendiri di dalam jiwa manusia, atau itu adalah konstruksi dari misalnya nasihat orang tua, ajaran guru, perintah agama, pengalaman hidup, atau kombinasi dari semuanya? Apakah kompas moral itu bisa berlandaskan rasio dan penalaran ilmiah?

Aku ingin bercerita tentang bagaimana apiknya penalaran tentang moral disisipkan dalam plot dan penokohan di serial The Good Place. Ada beberapa karakter di serial ini yang mana merasa sudah menjalani hidup dengan baik sehingga merasa layak mendapatkan surga setelah meninggal.

Ternyata baik dan buruk tidak hanya dinilai dari perilaku saja, karena berbuat baik dengan niat yang buruk tidak dihitung sebagai kebaikan. Misalnya, melakukan donasi untuk pamer dan pamor seperti yang dilakukan salah satu tokoh di situ. Manusia-manusia yang sudah meninggal ini baru menyadari bahwa setelah melihat catatan dosa dan pahala, mereka tidak menjalani hidup dengan cukup baik.

Masalah lain muncul lagi, ternyata sistem penilaian dosa dan pahala yang sudah berjalan, terlalu berat untuk diaplikasikan di dunia modern. Akibatnya, tidak ada manusia yang berhasil masuk surga selama 500 tahun terakhir. Berangkat dari sini, arsitek akhirat bekerjasama dengan manusia mencoba memperbaiki sistem ini. Bagaimana memperbaikinya? Ada karakter bernama Chidi yang semasa hidupnya adalah professor filsafat moral yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar tentang etika dan moral. Chidi membantu mengaplikasikan proses penalaran dalam nilai moral yang universal untuk memperbaiki sistem pahala dan dosa ini.

Tapi masalah baru muncul lagi. Atau lebih tepatnya sebuah penemuan baru muncul. Arsitek akhirat ini baru menyadari bahwa buruknya perilaku manusia itu bisa diperbaiki, kasih sayang dan kepedulian bisa diajarkan. Karena dia bukan manusia, dia memang cukup kesulitan memahami perspektif manusia hingga akhirnya dia mencoba untuk riset ke bumi. Dia juga menyadari bahwa keputusan dan kelakuan buruk yang diambil manusia terkadang bukan karena manusia tersebut dari sananya jahat, tetapi ada dorongan seperti misalnya kurang kasih sayang, merasa lemah, pendidikan yang terbatas, atau lingkungan yang tidak mengajarkan kepada kebaikan.

Dari kesadaran itu, muncul rasa iba. Penemuan lainnya juga muncul, ternyata setelah meninggalpun, manusia bisa berubah ke arah yang lebih baik. Tapi masih menyelami pertanyaan yang sama, apa itu baik? dan bagaimana manusia memiliki kompas moral yang lebih baik.

Chidi adalah penggemar berat filsuf-filsuf seperti Aristotle, David Hume, Hypatia, dll. Sering sekali Chidi mengutip perkataan filsuf dan mengajak karakter lain untuk melihat persoalan dari sudut pandang filosofi. Termasuk yang paling sering disebutkan adalah Immanuel Kant, seorang filsuf jerman yang banyak menulis karya tentang filsafat moral.

Menurut Kant, perbuatan baik adalah yang didasari oleh niat yang baik. Tapi apa itu niat baik? Kant merumuskan 3 hukum moral yang obyektif dan mutlak yang sepatutnya berlaku bagi manusia di manapun dalam keadaan apapun.

Chidi sedang membaca Groundwork of The Metaphysics of Morals karya Immanuel Kant

Satu, kebaikan adalah apa yang jika dilakukan oleh banyak orang atau semua orang, maka hasil jadinya adalah kebaikan. Misalnya, jika kita menjanjikan orang lain sesuatu yang kita tau tidak bisa kita tepati karena kita hanya ingin memberikan rasa gembira ke orang itu, hasilnya orang itu memang gembira pada hari itu, tapi bagaimana ketika dia tau janji itu palsu? Dan bagaimana jika semua orang melakukan ini? Contoh lain, misalnya kita membuang sampah sembarangan adalah perbuatan netral, toh nanti ada petugas kebersihan, kan petugas kebersihan digaji untuk bersih-bersih. Bagaimana jika separuh populasi berpikir hal yang sama bahwa tidak apa-apa buang sampah sembarangan karena nanti ada petugas kebersihan? Ketika sebuah presumsi kebaikan yang dilakukan secara kolektif tidak menghasilkan kebaikan, maka itu bukan kebaikan. Ini adalah saringan pertama dari menentukan apa itu kebaikan.

Kedua, memanusiakan manusia, bukan memperalat manusia. Berbuat baik terhadap sesama adalah keharusan mutlak, bukan karena kita butuh orang itu, dan bukan karena kita suka sama orang itu. Jadi, terhadap siapapun dan dalam keadaan apapun. Mau kita sedang apes atau dalam emosi yang sangat negatif, bersikap baik adalah keharusan. Memperlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan, itu adalah kebaikan.

Ketiga. Berpegang teguh akan kompas moral secara rasional yang kita miliki. Manusia memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan baik dan buruk juga manfaat dan merusak. Mempertimbangkan dan memutuskan keputusan melalui penalaran yang rasional adalah kebaikan.

Sedikit cerita tentang Immanuel Kant. Kant dilahirkan di keluarga kristen yang taat. Dia memperhatikan orangtuanya hidup dengan baik dan dapat melalui cobaan hidup dengan tegar karena memiliki agama sebagai kompas moral. Sejak muda, Kant tertarik dengan topik moral dalam agama. Terkadang, Kant skeptis terhadap dasar argumen moral dalam ajaran agama. Dari situlah Kant mulai memikirkan perumusan argumen moral yang universal.

Perbaikan sistem penilaian pahala dan dosa di serial The Good Place adalah proses yang panjang, butuh banyak trial and error sampai berpuluh-puluh episode dalam 4 musim. Mereka juga mensimulasikan eksperimen trolley problem loh. Akhirnya, sistem neraka konvensional yang penuh penyiksaan diganti dengan sistem pengembangan karakter karena setiap manusia punya potensi menjadi lebih baik, bagaimana dengan surga dimana segala keinginan dikabulkan? Apakah surga adalah solusi atau masalah baru?

Serial The Good Place mengemas pertanyaan-pertanyaan besar dalam pertunjukkan komedi yang segar dan menghibur. Banyak sekali humor-humor tersembunyi, bahkan kita juga akan dapat bocoran tentang selebriti dan tokoh-tokoh dunia yang masuk neraka dan surga, tentunya fiktif ya. The Good Place bisa diakses di Netflix ya jika kamu ingin menonton juga.

Kalau kamu lebih ingin menyelami tentang filsafat moralnya, ini adalah salah satu rekomendasi bacaan dari Chidi untuk Eleanor. What We Owe to Each Other yang ditulis oleh Scanlon.

https://www.instagram.com/p/CGWcq2jgtL2/?utm_source=ig_web_copy_link
Untuk daftar referensi bacaan Chidi Anagonye yang lebih lengkap, kamu juga bisa mengakses postingan di Instagram Bookish Indonesia ini.

Apakah karena Chidi memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang luas tentang moral dan etika, dia menjadi manusia tanpa cela? Oh tentu tidak, justru pengetahuannya ini membuat dia menjadi sangat lambat dalam mengambil keputusan. Kok bisa? Karena terlalu banyak pertimbangan membuat dia selalu saja terjebak dalam dilema yang kompleks. Terkadang, intuisi saja cukup kok. Kalau segalanya terlalu dipertimbangkan dengan sempurna, kita akan kelelahan dalam kecemasan.

Selamat membaca/menonton ya! Pokoknya, serial ini sangat jenius sekaligus sangat konyol. Banyak sekali wisdom berharga dan jokes yang kelewat absurd. Terima kasih sudah membaca dan semoga kita bisa bertumbuh memiliki sense of morality yang lebih rasional. 🙂